Red Bobblehead Bunny

6/8/13

Taka ada apapun...

Cause there somethin’ in the way you look at me….
                Mungkin itu perasaan yang muncul kala itu, saat episode-episode drama kita bahkan belum terskenario dengan baik. Baru sebatas konsep dasar yang masih acak tak karuan. Pertemuan yang sama sekali kita tak mengerti dasar idenya oleh si ‘Tangan Pintar’ membuat kita bertanya, heran, menghujat. Tentu hanya pertanyaan yang keluar saat itu, mengapa harus bertemu di sini saat ini? Juga mungkin hanya komplain yang saat ini terucap dari lisanku, mengapa tidak Tuhan temukan saja kita saat kita dewasa nanti? Saat kita sama-sama telah memiliki kaki sendiri untuk berlari, mata untuk mencari, juga hati untuk memilih yang terbaik. Apakah ini sebuah skenario Tuhan yang telah selesai Dia buatkan khusus untukku? Dan aku tinggal menunggu akhir dari jalan cerita-Nya itu? Tanpa pernah memiliki kesempatan untuk mengonfirmasinya?
                Mungkin, aku terlalu mereka-reka kenyataan yang sebenarnya. Berpikiran terlalu jauh justru berakibat buruk terhadap perasaanku sendiri. Alangkah durjananya diri ini saat menganggap matamu yang indah itu bersinar terang kepadaku. Perlahan masuk menyelinap ke celah-celah kecil dari dinding hati ini. Karena ternyata, pada akhirnya aku yang harus menyadari, kilau indah itu mungkin bukan sesuatu yang kau khususkan untukku.

There is no somethin’ in the way you look at me…

6/4/13

Entahlah...

               Entah mengapa, semenjak kau mengungkapkan segalanya dalam sebuah pesan singkat itu, aku merasakan ada sebuah penyesalan telah menanyakan hal sesensitif itu. Terbersit dalam setiap detail kalimat-kalimatmu, jarak yang begitu besar, yang memisahkan potongan demi potongan yang selama ini coba kususun dan bangun. Cerita-cerita yang terasa indah pada awalnya, perlahan luntur menjadi episode-episode tak bermakna. Hanya menjadi gambar hitam-putih yang monoton, mengingatkanku pada kisah-kisah lama Laila & Majnun, Romeo & Juliet, atau bahkan nanti menjadi kisah antara kau dan aku sendiri. Akan tetapi, dalam banyak hal, hitam putih yang monoton juga bisa menghiasi perjalanan hidup kita masing-masing, mengantarkan kita kepada warna-warna lain yang semakin lama semakin indah pada saatnya nanti.
                Entah mengapa, semenjak kau mengungkapkan segalanya dalam sebuah pesan singkat itu, dan aku membacanya dengan penuh kegundahan, jari-jari ini seakan tak pernah mau berhenti menuliskan kesedihan serta kesenduan yang sejatinya tak berarti apa-apa, hanya semakin menggoreskan kekecewaan yang lebih kejam. Jari-jari ini juga seakan mengajakku berlari dari kenyataan bahwa memang perkara cinta bahkan tak mau peduli perihal realita, sesuatu yang harusnya aku sadari sejak awal. Pada akhirnya pun, aku sendiri yang mengakui bahwa jari-jari ini jauh lebih jujur ketimbang hati dan pikiran yang terobsesi cinta. Dan mungkin, suatu saat nanti lonceng Tuhan yang yang akan sampaikan rindu yang semestinya menghangatkan hidup ini. Aku yang telah ungkapkan semuanya dan pertaruhkan rasa ragu dan malu ini hanya bisa melihat dari kejauhan, di belakang pagar betis komitmenmu yang bahkan kuakui itu hebat, seiring berdoa agar kau akan mendapatkan seseorang yang terbaik baik versi Tuhan maupun versimu sendiri. Meski dalam sudut terkecil hati ini, aku masih berharap, akulah yang terbaik untukmu.
                Entah mengapa, semenjak kau mengungkapkan segalanya dalam sebuah pesan singkat itu, diriku secara simultan menderita kontradiksi rasa yang rumit. Di satu sisi, aku merasa ada bagian yang hilang dari diri ini. Entah itu perasaan cinta, atau justru hanya sebatas ketidaktaudirian yang berlebih. Tapi, di sisi yang lain, aku justru senang, senang karena tak terbodohi oleh arti cinta itu sendiri. Juga senang karena komitmenmu itu mengingatkanku pada keutuuhan cinta yng sesungguhnya yaitu dengan ikatan suci sebuah pernikahan. Dan segalanya mungkin akan baik-baik saja dalam nuansa seperti ini. Tak perlu ada ucapan cinta, atau pemberian sekuntum bunga sebagai refleksi kebahagiaan kedua hati. Aku pun tak terlalu memusingkan hal ini, tetapi, sedikit banyak ingin sekali ku tanyakan, adakah diriku….oh singgah di hatimu….?

5/12/12

Bazaar, bazaar..........

PPDB 2012 IC gila maksimal!!! Seharian penuh anak2 Ic mondar-mandir, bolak-balik, jungkir-balik, guling-guling ngurusin bazaar. Angkatan Foranza Sillnova dan Magnivic Aleancarin coba tawarkan barang dagangan dengan gaya masing-masing, fren! Ada yang sambil teriak-teriak kaya tukang perabot keliling, ada yang tiba-tiba ada di depan muka pengunjung, ada yang pake acara ngegombal, ada yang sambil ngupil.... macem-macem....
Malah, gue sempet jadi salesman dadakan. Kemaren, setelah gue amati dengan penuh seksama, ternyata para customer yang ada di IC saat PPDB bisa dikelompokkan menjadi tiga golongan besar. Pertama, orang yang langsung membeli barang tanpa basa-basi. Orang seperti ini paling enggak bikin capek, lho. Kedua, orang yang curhat dulu baru mau memdeli barang. Na, yang ini cukup membuat energi dan waktu kita tersita. Ya, meskipun kita akan tetap mendapatkan seorang pembeli di akhir percakapan nanti. Pembeli seperti ini bisa kita jadikan kelinci percobaan(latihan) untuk keahlian berkomunikasi yang sejatinya tidak diajarkan seorang guru IC di depan kelas. Nah, ada juga pembeli yang hanya mau didengarkan curhatnya tapi tak mau membeli barang kita. Secara waktu dan tenaga, mungkin kita rugi. Tapi di sisi lain, orang seperti ini memang sedang membutuhkan orang yang mau mendengar curhatnya. Jadi, mau engga mau kita kemaren mesti nungguin orang ini dengan cukup sabar. Yah, begitulah.
Wooow, tentu kita banyak mendapat pelajaran berharga kemaren. Mungkin tahun depan Foranza Sillnova tak melakukan hal yang sama seperti kemaren. Foranza udah kelas tiga. Yah, lalu lulus dari IC. Amin. Yang jelas, kemaren adalah performance Foranza Sillnova dan Magnivic Aleancearin yang keren abis. Selamet ya anak Foranza dan Magbivic.....
Over all, moga-moga apa yang kemaren dah lewat bisa membekas di ingatan kita, ya....

5/6/12

Dota di MAN IC

Saat ini, saya sedang duduk bersama seorang pria berpostur besar dengan kapasitas silinder berukuran super besar. Dengan gayanya yang sedikit so cool di depan layar komputer, ia ternyata sedang asyik dengan tutorial permainan dota yang entah kenapa sedang marak di MAN Insan Cendekia Serpong. Sebut saja ia Karto.
Karto sangat antusias dengan boomingnya kembali dota di sekolahnya. Setiap berada di depan komputer(dalam keadan offline maupu online), ia tak pernah absen dari sesuatu berbackground hijau muda yang tentunya adalah background permainan dota.
Dota sendiri kembali memboom karena ada inisiatif dari seorang siswa yang terlihat sangat peduli(gamer sejati) dengan eksistensi dota di dunia sekolah. Ia memulai usahanya dengan hanya bermain secara mandiri di laboratorium komputer(Tentu tanpa sepengetahuan Pak Dayun) hingga akhirnya ia berhasil mengajak teman-temannya untuk menggunakan fasilitas LAN yang disediakan oleh sekolah sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan dalam proses KBM.
Lepas dari itu semua, permainan dota memiliki banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan oleh gamer, di antaranya adalah, mengasah kemampuan berpikir strategis, melatih refleks syaraf, serta meningkatkan kemampuan berhubungan sosial. Jadi, apa salahnya mencoba permainan ini di sela-sela kesibukan kita. Namun yang jadi perhatian adalah tetap peduli pada waktu, sarana, serta efek samping yang berhubngan dengan permainan ini maupun yang lainnya.

3/8/12

Hormat atau Dekat


Lepas dari  sebuah makna manusia sebagai makhluk dengan fungsi ganda atau dualisme, manusia harus menerima kenyataan bahwa ia diciptakan agar menjadi seorang pemimpin, baik dalam konteks bagi diri sendiri maupun bagi keluarga, golongan atau kelompok, organisasi, hingga cakupan yang cukup luas seperti pemerintahan dalam sebuah negara. Semuanya dituntut untuk bisa mengenali, mengayomi, serta mengendalikan apa-apa yang menjadi kekuasaannya.
Dalam konsep kepemimpinan, banyak aspek yang bisa dikupas, diulas, serta dijadikan topik pembahasan dalam kajian studi bagi generasi-generasi penerus. Namun, saat ini, saya takkan mencoba menghadirkan pengertian, karakter,  serta bermacam-macam tokoh pemimpin yang hebat dalam sejarahnya dengan maksud membuat anda mengerti serta akan mengimplementasikannya dalam kehidupan anda sehari-hari, tidak. Saya hanya akan menyinggung dua poin yang-menurut saya-berlawanan namun seharusnya bisa disatukan dan berjalan beriring-iringan, kewibawaan dan kedekatan(pemimpin dengan rakyatnya).
Kewibawaan mutlak dimiliki seorang pemimpin demi menjaga nama baik dan kehormatannya di depan rakyatnya. Tanpa berwibawa, seorang presiden pun dapat digulingkan dari kursi kepresidenannya. Tak peduli siapapun orangnya. Berwibawa juga menunjukkan seberapa pantas ia disebut pemimpin. Tapi, kewibawaan seorang pemimpin belum bisa menjadi indikator pemerintahan yang sukses dan seluruh bawahannya(rakyatnya) dapat mengenyam kesejahteraan. Sekilas, pemimpin yang berwibawa bisa membawa pemerintahan berhasil, mungkin, tapi tak selamanya. Di sini pun saya tak mau mengkritik atau menggurui siapa pun, hanya ingin menyinggung dan mencoba membanding-bandingkan.
Poin kedua, kedekatan pemimpin dengan yang dipimpin. Semakin dekat, semakin bisa merasakan.Setidaknya itu yang saya dapat saat mengamati perilaku dua kutub magnet yang berbeda, semakin dekat, semakin kuat gaya tarik-menarik antarmagnet, dan semakin sulit untuk dipisahkan. Pemimpin dan rakyatnya adalah dua kutub yang berbeda, hanya masalah jarak yang memisahkan saja. Tapi ingat, pemimpin yang dekat dengan rakyatnya juiga menjadi malapetaka seandainya pemimpin tak memiliki ketangguhan pendirian. Suara rakyat adalah faktor eksternal. Pemimpinlah yang layak mengambil keputusan,bukan rakyatnya.
Lantas, apakah kita tak bisa memilikinya bersamaan? Siapa bilang? Di awal, saya sebutkan dua hal ini bertolakbelakang tapi tak juga dipungkiri bisa disatukan dan kita miliki keduanya. Dalam sejarah Islam, disebutkan bahwa pemimpin agama tersebut, Muhammad Saw. adalah orang yang berwibaa. Ia mampu membawa pengikutnya dari mulai mengikuti aturan Islam hingga berperang melawan orang-orang nonmuslim yang mereka sebut kafir hingga berhasil menaklukan kerajaan-kerajaan besar nonmuslim. Tapi, di lain waktu, saat ia menemukan seorang anak tanpa ayah-ibu dan berpakaian compang-camping, apa yang ia lakukan? Ia lantas membawanya ke rumah dan dengan penuh kasih sayang, ia memandikannya, memberinya pakaian dan mengakuinya sebagi anak. Juga banyak lagi teladan orang-oarng besar yang memiliki dua hal ini.
Setelah membaca tulisan ini, saya tak berharap banyak anda mau mengomentari tulisan saya, atau mendapatkan pujian dari anda, atau semacamnya! Tapi, camkanlah, rakyat anda sangat mengharapkan anda punya dua hal ini ! Termasuk saya. Saya yakin, gaya kepemimpinan saya masih kalah jauh ketimbang anda. Dan saat ini, saya sedang berperan sebagai rakyat. Maka, dengarkanlah ini, and please, be the great leader for us!

1/20/12

Merah Tiba

Neraca lurus berporos indah
Hari ini hari esok
Satu kursi tiga orang
Cukup

Beriringan kaki bendara
Panji itu cukup kuat
Menampung otak seribu
Hampir-hampir sejuta

Kobaran api, angin kencang menerpa,
Panji itu tetap kuat
Mengangkat otak seribu
Hampir-hampir sejuta

Pundi emas berlilit perak
Temani mentari dan bulan
Habis waktu demi sembah abadi

Neraca, hari ini kehilangan kendali
Berat sebelah
Bergoyang-goyang kian kemari
Melawan otak seribu
Hampir-hampir sejuta

Serdadu merah kobarkan benci
Bibir perang dengan dahsyatnya
Pecah belah neraca kini
Menahan otak seribu
Hampir-hampir sejuta

Yang kaya makin kaya, yang miskin tetap miskin


           Pernahkah anda melihat segelintir orang kurang beruntung ditayangkan di televisi ? Atau pernahkah anda mendengar orang berkoar-koar meminta sumbangan untuk orang-orang miskin ? Atau, pernahkah anda menjadi donatur untuk sebuah kegiatan bakti sosial ? Jawabannya, pernah, atau mungkin sering. Ya, benar, kemiskinanlah yang menjadi masalah besar bagi negara ini. Ternyata saat ini masalah kemiskinan belum bisa kita selesaikan. Dalam keseharian kita, mungkin bagi mereka yang tergolong mampu dalam urusan materi takkan merasakan kesulitan. Semua lancar karena memang urusan mereka tercover dengan baik. Bukan hanya itu, terkadang mereka terlalu banyak menghambur-hamburkan harta mereka dengan sia-sia percuma. Ini fenomena yang sangat biasa. Sama biasanya seperti membuang seonggok sampah.
Mari kita merenung sejenak seberapa efektif dan efisienkah harta yang kita miliki terpakai selama ini? Seratus persenkah ? Sembilan puluh persenkah ?. Tapi, bagi mereka yang kurang mampu, pertanyaan yang mungkin sesuai adalah, seberapa besar harta yang belum terpenuhi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?. Mungkin di berbagai media saat ini kita kan mendengar betapa majunya perekonomian negara kita saat ini. Tahun 2011 ini, perekonomian Indonesia naik hingga 6%. Angka yang cukup besar. Tapi, ini hanya sebatas angka. Angka 6% tak berpengaruh besar terhadap masalah kemiskinan. Hingga saat ini, masih sangat besar angka yang menunjukkan tingkat kemiskinan di Indonesia. Selama ini, nampaknya kita masih terjajah oleh kemiskinan.
Di banyak tayangan di stasiun televisi, kita seakan terus menjumpai orang-orang yang tak mendapatkan pekerjaan yang layak. Di antara mereka mungkin ada yang bekerja mati-matian di bawah terik matahari di tempat pembuangan sampah akhir, hanya untuk mencari cacing. Itu hanya salah satu dari berbagai macam pekerjaan yang tak layak di Indonesia. Pantas sajalah kualitas hidup mereka terbatas hanya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Di sisi yang berbeda, di sana banyak orang berpenghasilan besar dan mapan tak henti-hentinya memeras keluguan orang-orang kecil. Mereka memanfaatkan keadaan, benar-benar kejam. Tampaknya, menduduki kursi di dalam pemerintahan dan suksesnya di bidang wirausaha belum memenuhi hasratnya mengumpulkan uang. Dan lagi-lagi, uang orang-orang kecil jadi sasaran. Bukan hanya orang besar,  pegawai pajak pun bisa melakukan hal yang sama. Dalam rekening banknya, tersimpan pundi-pundi uang yang bernilai milyaran rupiah, hanya seorang pegawai pajak.
Rupanya, masalah kemiskinan telah mengancam kehidupan kita di negara ini. Bukan hanya miskin dalam konteks materi, tapi juga telah menyangkut kemiskinan moral bangsa ini. Dan ternyata saat ini masalah yang kita hadapi adalah, yang kaya akan semakin kaya harta dan yang miskin akan tetap miskin, yang kaya semakin miskin moral, yang miskin sama saja.

Negara kita tak(belum) sesuai harapan


Enam puluhan tahun yang lalu, negara ini benar-benar mendapatkan keajaiban yang besar, keajaiban yang tak datang begitu saja, tapi karena keringat dan darah para pendahulu kita, para pahlawan negara. Tak bisa dipungkiri, jika kita melihat ribuan buku sejarah yang ada di sekitar kita(museum, perpustakaan , hingga e-book), di sana termaktub jasa-jasa, pengorbanan, serta semangat yang suci mereka. Bahkan, mungkin kita takkan menemukan satu orang pun pahlawan yang berperang karena demi dirinya atau keluarganya, tapi demi negara. Hari jumat, 17 agustus 1945 pun menjadi latar awal berdirinya sebuah Negara yang merdeka, terlepas dari segala bentuk penjajahan bangsa lain.
Mereka, para pahlawan bukan diam dan berpangku tangan dalam membela negara. Tentu dengan keberanian yang dibuktikan dengan berperang, tanpa rasa takut. Dalam benak mereka, yakinlah,mereka tak pernah mau Negara yang telah mereka pertahankan dan perjuangkan hancur hanya karena masalah perubahan zaman, intrik politik, atau generasi muda yang amburadul. Pertanyaannya, maukah kau menyakiti hati mereka? Siapa pun mereka yang –benar-benar-memiliki hati takkan mau mengucapkan kata ‘ya’ atau’Tentu’. Lantas, apa yang kan kau lakukan ? Untuk pertanyaan ini, mari kita jawab dengan mantap, ‘Apa saja asal tak bertentangan dengan kebaikan’. Cukup.
Tapi sekarang, kita bisa melihat realita. Ucapan-ucapan yang barusaja keluar dari mulut kita tak mudah dilakukan. Tanpa sadar kita telah menyakiti hati mereka. Negara ini seakan bukan negara yang istimewa, bukan negara yang dahulu memunculkan pahlawan-pahlawan besar yang menjanjikan kemerdekaan. Sekarang semuanya melihat, di balik kemerdekaan yang bersinar, negara ini –ternyata-semakin hancur sedikit demi sedikit, sejengkal demi sejengkal, dan tak kan ada yang tahu tiga puluh tahun yang akan datang. Jika kita rajin membaca koran, menonton berita di televisi atau hidup di lingkungan pemerintahan negara, sedikit banyak kita akan tahu borok-borok yang menggerogoti negara kita.
Dalam pemerintahan, unsur pemimpin yang adil dan jujur seakan sesuatu yang tabu. Banyak oknum-oknum berseragam parlente yang tega-teganya menjilat harta mereka yang membutuhkan. Bukan sesuatu yang aneh, justru menjadi sebuah pekerjaan sambilan, sebut saja mereka koruptor. Entah apa yang terjadi, tapi KKN adalah tradisi orang-orang Belanda yang dahulu menjajah Indonesia. Perilaku busuk ini kini mulai menjadi kesibukan bagi badan yang disebut KPK.
Saat beranjak keluar dari rumah, mencoba menghirup udara terbuka, kita mungkin takkan terkejut melihat beberapa anak kecil berlarian di jalanan, terminal, stasiun, perempatan, sampai kolong jembatan yang -ironisnya- tak berpakaian layak. Ini hanya sekedar penampilan luar. Saat kita melihat lebih detil lagi, ternyata mereka membawa alat-alat musik buatan sendiri. Betul, mereka mengamen. Atau yang lebih parah lagi, mencuri. Semua ini terlihat sangat biasa. Mengapa? Fenomena in terjadi di hampir semua tempat di Indonesia dan terjadi setiap saat.  Bukan apa-apa, ini masalah pendidikan. Mereka bukan anak-anak yang dilahirkan sebagai pengamen, pengemis, atau pencuri. Pendidikanlah yang memaksa mereka berpola pikir seperti mereka. Lalu, siapa yang disalahkan? Orang tua? Tak seratus persen kesalahan ini milik orang tua. Biaya sekolah yang tinggi serta pekerjaan orangtua mereka yang kurang layak menjadi pemicu masalah ini. Biaya pendidikan jauh lebih tinggi dibandingkan biaya untuk hidup sehari-hari.
Atau saat kita melihat lingkungan yang lebih indah, sekolah, kita akan sedikit tercengang akan perilaku mereka yang telah mengenyam pendidikan, yang tentu jauh lebih baik daripada anak-anak jalanan tadi. Tradisi-tradisi anarkis seperti tawuran dan keroyokan acap kali kita temukan di lingkungan ini. Memang benar, anak muda sedang bergelut dengan masa-masa pendewasaan. Emosi mereka terbilang labil dan susah dikendalikan. Ini dipengaruhi faktor kejiwaan mereka secara normal. Tapi, faktor lain juga berperan aktif dalam masalah ini. Lingkungan yang kondusif takkan memicu hal-hal semacam ini timbul di kalangan anak sekolah. Yang lain lagi, ketika orangtua khawatir karena sistem pendidikan yang kurang bermoral yang membiarkan anak-anaknya mencontek saat mengikuti ulangan. Bahkan, banyak sekolah yang-lagi-lagi ironisnya- mengajarkan tradisi busuk ini. Suatu ketika ada orang tua yang mengajukan protes terhadap sekolah anaknya yang membolehkan siswanya mencontek saat mengikuti ujian nasional. Lantas apa yang terjadi? Anaknya dikeluarkan dari sekolah dan orangtuanya dianggap telah mencoreng nama baik sekolah. Inilah wajah pendidikan di Indonesia.
Entah percaya atau tidak, lagi-lagi kalangan anak muda membuat gerah orangtua. Anak muda kini amat rentan dengan masalah obat-obatan terlarang serta miras. Banyak faktor yang memengaruhi timbulnya masalah ini, bisa karena stress, pergaulan bebas, atau karena kurangnya kasih sayang yang diberikan orangtua. Mungkin hal buruk ini akan bisa diminimalisasi dengan berbagai tindakan preventif dan represif, tapi mungkin akan sulit jika tanpa kesadaran dari berbagai pihak terkait.
Di lain hal, sungai-sungai yang ada di Indonesia kini bukan hanya dialiri oleh air, limbah, atau sampah-sampah lainnya, tetapi juga darah segar milik bayi-bayi yang dibuang. Bangkai-bangkai bayi kini banyak mengambang dan nyaris ditemukan di berbagai sungai di Indonesia. Ya, bangkai bayi. Pergaulan bebas dan praktik aborsi yang kian merajalela nampaknya menjadi pemantik permasalahan ini muncul. Lagi-lagi penanaman moral bagi para pemuda khususnya harus segera dibenahi. Tak mungkin ribuan bayi yang akan menjadi pilar-pilar negara justru terbuang sia-sia karena jalan buruk yang ditempuh kedua orangtua mereka
Inilah, beberapa hal yang mungkin saat ini perlu kita perhatikan. Negara kita kini belum menjadi negara harapan para pendahulu kita dan tentu tak sesuai dengan apa yang telah mereka canangkan enam puluhan tahun yang lalu. Dan ini hanya masalah sudut pandang. Saat ini, kita sedang memandang sudut negatif yang negara kita miliki saat ini. Segala sesuatu yang positif yang kita harapkan ada pada negara kita tentu wajib kita pertahankan.

10/19/11

Hai, Tuan, Inikah Adil ?


Laju kereta melesat
Pengap, sesak, layu

Di tempat biasa
Bertahta debu noda
Tak apa bila tersiksa

Mengulur tangan
Menghitung waktu
Harap karunia
Inikah keadilan?
Ya
Coba kau tanya mereka
Adil milik orang besar

Gelap
Kardus jelmaan permadani
Dingin
Selimut kulit tak terharga
Lapar
Ludah nikmat rasanya

Benarkah keadilan ?
Kuharap oraang besar
Sadar diri

Ketakutan

Batu celup air hitam
Sekelebat putih bawa pusaka
Hitam gelap bawah kaki
Berat

Tak kuasa seruling cerita
Hitam gelap bawah kaki
Menarik badan
Lagi

Kini basah kertas putih
Kini hitam kertas basah
Terlanjur

Batu tenggelam
Air diam tak geming
Hitam gelap tertawa
Lagi
Sesal ?
Ya

Batu kini lupa
Satu hal
Ketakutan
Ketakutan
Ketakutan
Hitam gelap biadab


9/29/11

Aku dan Ibu

    “Selamat mimpi indah. Semoga bangun dengan membawa kabar gembira,” bisik seorang ibu.

Pejamkan matamu nak, lekas ibu matikan lampu
Kecupan kening mengantarkan malammu
Sebuah cahaya mengulur rendah
Menampakkan kulit mulus ibu
Gelap lenyap, terang membentang
Ibu, pintu permen ! Ibu, dinding coklat !
Ibu, aku ingin masuk !
Tangan halus merengkuh lembut
Sekejap tubuh melunak permen
Ibu, aku ingin tingal di sini !
Senyum......
Hanya senyumnya.....

“Pagi!,” ibu mengelus pipi adik.
“Bagaimana malammu?”
Senyuman menjawab ibu
Aku sayang Ibu.....

7/23/11

Sukses



        Kesuksesan itu memang aneh, gelap, misterius dan tak menentu. Di satu sisi,  kesuksesan ada di samping kita, kanan dan kiri manusia. Tak perlu banyak bergerak . Hanya mengayunkan tangan sedikit, kesuksesan itu langsung dapat kita raih. Di sisi yang lain, kesuksesan ada di depan kita. Terkadang sangat dekat terkadang sangat jauh. Yang pasti, kesuksesan itu bisa kita lihat dengan jelas dan terarah di depan kita. Tak perlu bersusah-payah meraba kanan-kiri kita. Di sisi yang lain lagi, kesuksesan ada di belakang kita. Dekat sekali dengan ekor kita, tapi tak jelas bahkan tak terlihat. Terkadang kita perlu berjalan jauh dan sangat jauh dan tanpa kita sadari kita telah menuju ke tempat di mana kita berpijak dahulu. Padahal, seandainya kita melangkah mundur sedikit saja ke belakang pasti kesuksesan itu dapat langsung kita rangkul. Namun, itulah kesuksesan. Tak menentu adanya.
        Eits, bukan berarti kita takkan mampu meraih kesuksesan. Semua bisa mendapatkannya tapi dengan jalan yang berbeda--beda. Dan  ingatlah satu hal, jangan sekali-kali berharap kesuksesan akan mendatangi orang yang hanya  berdiam diri menonton sekeliling tanpa tindakan-tindakan yang berarti. Kita perlu melangkah untuk merambah kesuksesan dengan pasti dan dilandasi semangat Ora Et Labora.